Make your own free website on Tripod.com
The New Leader
Potensi

Home

Pemimpin | organisasi | Kesuksesan | manajemen | Potensi | Customer Accolades | Tips | New Page Title

Mengenal Potensi Manusia

Oleh Komaruddin Chalil, S.Ag.

I. Pengantar

Diantara sekian banyak makhluk ciptaan Allah, manusia menempati posisi sebagai makhluk yang paling utama, paling mulia dan paling sempurna. Pernyataan ini bisa kita dapatkan dari firman Allah QS At-Tin ayat : 4

"Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya"

Bahkan dengan rahmat dan kasih sayangnya Allah menyerahkan pengelolaan langit & bumi ini kepada makhluk yang bernama manusia.
Penjelasan tentang hal ini bisa kita dapatkan dalam SQ. Al-Jatsiyah : 13 (Dan dia telah memudahkan bagi kalian apa yang ada di langit dan di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada semua itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berfikir).

Disamping keutamaan, kemuliaan & kesempurnaannya, manusia mengemban amanat yang berat yaitu sebagai khalifah/ pengganti Allah di muka bumi. Dan Allah sebagai pencipta yang Maha Sempurna, membekali manusia dengan berbagai potensi yang luar biasa agar bisa menundukkan & mengelola alam semesta.

II. Mengenal Potensi Manusia

Secara garis besar potensi manusia di bagi dalam 3 bagian :

1. Potensi Akal (kognitif, ilmu, fikir, tilawah)

Secara etimologi, menurut Raghib Ashfahaniy, akal memiliki arti imsak (menahan), al-ribath (ikatan), al-hajr (menahan), al-nahy (melarang), dan man'u (mencegah). Berdasarkan makna bahasa ini yang disebut akal secara umum adalah potensi yang disiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan, mampu menahan dan mengikat hawa nafsunya. Akal memiliki dua makna:

Akal jasmani, salah satu organ tubuh yang terletak di kepala, akal ini lazimnya disebut dengan otak (al-dimagh);
Akal Ruhani, yaitu cahaya nurani yang dipersiapkan untuk memperoleh pengetahuan dan kognisi.

Sehingga akal merupakan daya berpikir manusia untuk memperoleh pengetahuan yang bersifat rasional dan dapat menentukan eksistensi manusia. Dalam aktivitasnya akal memiliki berbagai potensi,

  1. Memahami hukum kausalitas, "Dan Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia-lah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang, maka apakah kamu tidak memahami?"(QS. Al-Mu'minun)[23];80)
  2. Memahami adanya sistem jagad raya, lihat surat Al-Syua'ra[26]:18-68), tentang dialog panjang antara Nabi Musa dengan Fir'aun yang menggambarkan ketidakmampuan akal Fir'aun memahami fenomena alam jagad raya di mana dibalik itu pasti ada Sang Pengatur, Maha Pencipta dan Maha Kuasa.
  3. Berfikit distinktif, kemampuan memilah-milah permasalahan dan menyusun sistematika dari fenomena yang diketahui, "Dan dibumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan dan kebun-kebun anggaur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang, disirami ddengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagaian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir" (QS Ar-Ra'd[13]4)

2. Potensi fisik (Psycomotorik, Amal, Ikhtiar, Jihad)

Lihatlah berapa potensi fisik manusia lebih sempurna dibandingkan makhluk-makhluk lain (binatang) ini yang menyebabkan manusia mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk melakukan hal-hal apapun dibandingkan makhluk lain.

Kemahabesaran Allah dari sekian milyar penduduk dunia tak satupun yang sama persis. Kemahabesaran Allah, fisik manusia diciptakan dalam posisi yang seimbang.

3. Qalbu (Afektif, Iman, Dzikir, Tuqotih )

Para ahli berbeda pendapat dalam menentukan maknanya. Sebagian ada yang mengasumsikan sebagai materi organik, sedang sebagian yang lain menyebutnya sebagai sistem kognisi (kemauan) yang berbeda emosi. Al-Ghazali secara tegas melihat qalbu dari dua aspek. Yaitu qalbu jasmani dan qalbu ruhani. Qalbu jasmani adalah daging sanubari yang berbentuk seperti jantung pisang yang terletak di dalam dada sebelah kiri. Sedangkan qalbu ruhani adalah sesuatu yang bersifat halus, dan bersifat ruhaniah serta ketuhanan.

Al-Qur'an menggunakan term qalb dan fu'ad untuk menyebut hati manusia, seperti yang disebutkan dalam surat al-Isra' [17]:36 dan surat asy-Syu'ara[26]:89. Al-Qur'an juga menggunakan kata shadr yang berarti dada atau depan untuk menyebutkan suasana hati dan jiwa sebagai satu kesatuan psikologis seperti dalam surat al-Insyirah [94]:1. tetapi Al-Qur'an juga menggunakan term qalb untuk menyebutkan akal seperti yang tercantum dalam surat al-Hajj [22]:46, dan untuk menyebutkan ruh seperti dalam surat al-Ahzab [33]:10

Dalam konteks potensi manusia, qalbu atau hati bukan sepotong organ tubuh melainkan sebuah elemen atau sistem nurani/ruhani manusia. Secara bahasa qalbu, artinya bolak-balik, dan ini menjadi karakteristik dari qalbu itu sendiri, yaitu memiliki sifat tidak konsisten, yang butuh suatu pengelolaan tersendiri..

Fungsi utama dari qalbu adalah sebagai alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai kehidupan seperti yang tersebut dalam surat al-Hajj [22]:46, artinya, "Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka bisa memahami, atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar? Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada."

Al-Ghazali berpendapat bahwa qalbu memiliki potensi yang disebut al-nur al-ilahiy (cahaya ketuhanan) dan al-bashirat al-bathinat (mata batin) yang memancarkan keimanan dan keyakinan. Demikian juga al-Zamakhsyariy menegaskan bahwa qalbu itu diciptakan Allah sesuai dengan fitrah asalnya dan berkecenderungan menerima kebenaran dari-Nya. Dari sisi ini qalbu berperan sebagai pemandu, pengontrol, dan pengendali semua tingkah laku manusia. Dengan potensi qalbu inilah manusia tidak sekedar mengenal lingkungan fisik dan sosialnya, melainkan juga mampu mengenal lingkungan spiritual, ketuhanan dan nilai kehidupan keagamaannya. Wallahu a'lam


Komaruddin, S.Ag. , Kepala Lembaga Pelatihan dan Pendidikan Ekonomi Syariah Koperasi Pondok Pesantren Daarut Tauhiid Bandung

 

Tulisan hari ini,

All about chance

Oleh : Wandi Suwarno

 

Benarkah kesempatan hanya datang sekali ?

Tidak, ternyata kesempatan tidak datang satu kali, kesempatan bisa datang berkali-kali pada orang yang sama meskipun dalam wujud yang berbeda. Setiap orang yang lahir ke dunia telah dibekali dengan bakat dan potensinya masaing-masing yang dapat mengundang  berbagai kesempatan untuk menghampirinya. Akan tetapi orang yang sangat mengenal dirinya sendiri dan sadar akan bakat dan potensinya belum tentu akan mampu menarik kesempatan untuk datang kepadanya..Sebagai contoh, seorang  yang tahu kalau dirinya punya bakat di bidang olahraga, tidak akan pernah menjadi seorang atlet di cabang olahraga manapun sebelum dia menunjukkan kalau dia bisa melakukan minimal satu jenis olahraga. Misalnya, ketika dia menunjukkan kemampuannya dalam bermain sepak bola dengan baik, maka kesempatan untuk menjadi pemain sepak bola profesional akan mulai menghampirinya disusul dengan kesempatan-kesempatan lain yang melihatnya tidak sebagai pemain sepak bola akan tetapi sebagai atlet lari atau sprinter, karena sewaktu dia menunjukkan kemampuannya dalam bermain sepak bola dia bisa berlari dengan sangat cepat saat mengejar bola. Jadi, yang perlu kita lakukan adalah mengenali bakat dan potensi yang kita miliki kemudian menunjukkannya. Semakin banyak yang kita kenal, dan semakin banyak yang kita tunjukkan, maka akan semakin banyak kesempatan yang menghampiri diri kita. Selamat mengenal diri sendiri dan tunjukin rasa elo!!!

 

Mengapa  orang seringkali membiarkan kesempatan lewat begitu saja ?

Orang seringkali mengabaikan kesempatan yang ada karena  menganggap kesempatan yang datang terlalu kecil atau terlalu sulit. Orang yang menganggap kesempatan yang datang hanya kecil, akan berpikir kalau kesempatan itu tidak akan memberinya keuntungan bahkan bisa-bisa menimbulkan kerugian jika kesempatan tsb diambil. Sehingga orang tsb akan membiarkan kesempatan tsb lewat tanpa adanya suatu reaksi apapun. Dan orang yang menganggap kesempatan yang datang kepadanya terlalu berat atau terlalu sulit, akan berpikir kalau dia tidak akan mampu mengambil kesempatan tersebut. Sehingga sekali lagi dia akan membiarkan kesempatan tersebut lewat begitu saja. Jadi, jangan pernah menganggap setiap kesempatan yang datang kepada kita terlalu kecil atau terlalu sulit. Karena jika  kita berpikir kesempatan yang datang terlalu kecil atau terlalu berat maka kita akan menjadi orang-orang yang selalu melalaikan kesempatan.

 

Mengapa kita harus mengambil kesempatan yang datang kepada kita meskipun kecil ?

Karena kesempatan memiliki perilaku yang aneh, yang akan menjadi besar jika kita mengambilnya. Jika kita mengambil kesempatan kecil yang datang kepada kita maka kesempatan tersebut akan membawa diri kita kepada kesempatan yang lebih besar. Sebagai contoh, seorang pegawai  biasa di suatu perusahaan mengambil kesempatan untuk berani menyampaikan ide untuk memajukan perusahaan melalui presentasi kecil yang dilakukannya di depan para atasannya, saat para atasan tsb sedang bingung untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat. Dan  akhirnya para atasan tsb kagum dengan ide yang  disampaikan pegawai tsb, dan langsung menunjuk dirinya menjadi team leader untuk merealisasikan ide tsb. Pegawai tsb telah mau mengambil kesempatan yang  kecil yang ternyata membawanya ke kesempatan yang lebih besar. Dan jika dia berhasil dalam proyek pelaksanaan dari ide tsb maka tidak menutup kemungkinan adanya kesempatam bagi dirinya untuk memperoleh jabatan yang  lebih tinggi. Jadi jangan pernah sekali-kali meremehkan kesempatan keci, karena kesempatan memiliki perilaku yang  aneh untuk berkembang menjadi besar.

 

Jika Anda merasa terganggu dengan adanya tulisan diatas maka sampaikan complain, saran atau kritik ke email ini : thekingwandi@yahoo.com

Man in parka; Size=180 pixels wide

John has been with us for fourteen years and is still going strong. He enjoys skiing and swimming when he isn't spending his time behind the desk.

Employee of the Month!
John Smith

Older man; Size=180 pixels wide

John has been working at our company for over 12 years. He is a dedicated employee, and we are fortunate to have him.

Our Company * Any Street * Anytown * US * 01234